vide épisode* (I)

"Pulang."
Kalimat itu satu-satunya yang mampu meluncur dari bibirku. Aku sangat letih untuk berpikir atau mencerna. Kamu beranjak tanpa sepatah katapun keluar dari mulutmu. Wajahmu menampilkan ekspresi yang susah ditebak. Ah aku benci menebak-nebak begini.

"Mampirlah dulu." Kutarik tanganmu setengah memaksa.
"Aku capek. Aku pulang dulu ya. Lain kali aku mampir," jawabmu datar, masih meneruskan sikap anehmu seharian ini.
"Tumben? Masih belum terlalu larut. Ayo masuklah, aku buatkan jus buah favoritmu."
"Baiklah. Tapi bukan karena sogokan jus buah. Memang aku ingin menyampaikan sesuatu."
Kamu mengikuti masuk ke dalam rumah. Langsung duduk di sofa yang sudah kamu kenal sejak ribuan hari lalu. Seperti janjiku, kubuatkan segelas jus jeruk kesukaanmu. Hati-hati, kuletakkan gelas bening itu di hadapanmu.
"Minumlah." Kupersilahkan kamu meneguknya. Satu tegukan disambung satu helaan nafas, lalu kamu memandangku tajam. Apa aku sudah berbuat kesalahan. Kamu tidak bersikap seperti biasanya, itu sudah cukup membuatku lelah berspekulasi karena kamu selalu menekankan tidak ada apa-apa.
"Maaf, sebelumnya aku minta maaf." Jeda. Hening. "Tapi aku mau kita putus."
Kutelan ludah. Buru-buru menata jalan pikiran sebelum aku jad histeris mendengar ini. Sekujur tubuhku melemas.
"Kenapa? Ada apa?" Aku butuh penjelasan yang masuk akal. Mengingat tidak pernah ada masalah di antara kami. Hubungan kami juga berjalan baik-baik saja.
"Karena perasaan yang aku rasakan tidak lagi sama." Jawabmu singkat dan tenang. Nyaris tanpa emosi.
"Orang ketiga?" Sergahku. Pusing, kepalaku berputar-putar.
Kamu menggeleng yakin, seulas senyum yang sangat aku sukai itu muncul sekilas.
"Bukan. Tidak ada orang ketiga. Tapi percayalah, keputusan ini aku buat dengan pertimbangan yang matang. Aku merasa tidak adanya lagi perasaan yang dulu muncul saat bersama kamu."
Pernyataan semacam itu belum mampu membuatku puas dan begitu saja menerima keputusannya.
"Kamu bosan? Karena kita sudah lama bersama?" Todongku lagi.
"Tidak kok, bukan karena bosan. Kebosanan mampu dikalahkan, tapi ketidakadaan perasaan ini membuatku merasa hubungan kita hampa. Aku tidak mau menyiksamu, dan membohongimu."
Pertahananku buyar, airmataku mengalir deras.
"Tapi dengan meninggalkanku justru kamu sedang menyiksaku. Kumohon, tumbuhkan lagi perasaanmu.Kita mulai lagi semuanya dari awal. Pikirkan lagi keputusanmu ini," kutatap wajahmu seperti terdakwa memohon pengampunan.
"Sudah kubilang, keputusan ini sudah mantap kuambil. Tidak bisa ditawar lagi. Kemarin-kemarin aku sudah mencoba, hasilnya sama, sia-sia. Maafkan aku."
Kuusap airmataku yang meleleh. Aku sibuk berpikir, bagaimana membuat sosok di hadapanku ini mengubah keputusannya. Aku tidak mau kehilangan dia, tidak pernah mau.
"Bohong! Kamu bohong bila mengatakan tidak mencintaiku lagi. Kamu sangat mencintaiku. Kita saling mencintai, itulah alasan kita bisa terus bersama sampai sekarang. Bukankah kita pernah berjanji untuk selamanya bersama? Bukankah kamu sendiri yang bilang tidak akan pernah meninggalkanku? Kenapa sekarang jadi begini? Kamu mengingkari janjimu."
Nada marah serta kecewa menyelimuti setiap perkataan yang keluar. Aku bisa apalagi?

 

to be continue..

Berbagi Pengalaman Melamar Di Ernst & Young

Kerja di Kantor Akuntan Publik kayaknya emang jadi satu tantangan dan minat tersendiri buat mereka-mereka lulusan akuntansi. Terutama yang masih fresh graduate. Alasannya mungkin senada, yaitu untuk mencari pengalaman. Soalnya kalau kerja jadi auditor di KAP bakal banyak ilmu yang didapatkan, plus bisa mengaplikasikan pelajaran yang didapat di bangku kuliah. 

Kali ini saya pengen share tentang cerita melamar kerja di salah satu dari big four KAP yaitu Ernst & Young atau biasanya disingkat E & Y, tapi bukan di kantor pusat Jakarta. Melainkan cabang E & Y di kota Surabaya. Kebetulan bukan saya sendiri yang melamar dan keterima. Lho kenapa? Yaiyalah, saya kan belum lulus kuliah, ditambah lagi saya nggak berasal dari jurusan akuntansi. Jadi cerita ini saya dapat dari 'seseorang', lalu saya tulis disini. Siapa tahu ada yang berminat buat ngikutin jejaknya kan ya? Here we go!

Proses Melamar. Bukan melamar sayaaaa, bukan. Tapi melamar ke E & Y. Karena setahu saya E & Y jarang banget buka lowongan secara publik atau roadshow ke kampus-kampus kayak KAP 3 huruf, sebaiknya kita yg berinisiatif menaruh lamaran. Langsung datang ke kantornya, bawa surat lamaran, CV dan ijazah atau transkrip. Masukkan map coklat, terus taruh deh di kantornya. 

Proses Menunggu. Karena yang namanya KAP nggak selalu butuh orang dalam jumlah banyak, maka bersabar-sabarlah. Bisa jadi jangka waktu satu orang dan yang lain untuk dipanggil beda-beda. Dalam kasus ini bahkan sampai dua bulan lho nggak ada kabar, jadi pasrah aja. Lillahi ta'ala. :)

Tes Tahap Pertama. Setelah dapet panggilan via telepon dari E&Y, persiapkan diri buat tes tahap pertama. Tesnya dibagi dalam dua sesi. Pada sesi pertama tesnya adalah TOEFL. Jadi sebaiknya jauh-jauh hari sudah berlatih mengerjakan soal-soal TOEFL. Di sesi kedua giliran tes tertulis seputar kemampuan akademik. Tesnya berbentuk multiple choice, pertanyaannya nggak jauh-jauh dari materi akuntansi, audit dan pajak.Oiya, ada soal esainya juga sih, dua nomer, pertama disuruh ngaudit laporan keuangan, disajikan neraca perusahaan dan kejadian-kejadiannya. Kedua, disuruh bikin neraca, disediakan akun-akun secara acak.

Tes Tahap Kedua. Tahap selanjutnya ini nunggu pengumuman kira-kira selama dua minggu. Waktu itu sih kepotong libur lebaran. Nah, di seleksi kedua ini tesnya berupa interview semacam ujian kompre. Pertanyaannya tentu aja seputar audit dan akuntansi secara umum. Setelah itu silahkan menunggu dikabarin lagi. Sekitar satu mingguan kalo nggak salah.

Tes Tahap Ketiga. Kalau di tahap ini kepanggil, bakalan tes interview seputar latar belakang keluarga, kehidupan pribadi, juga tentang kepribadian kita. 

Tahap Keempat. Kalau kepanggil di tahap ini, Insya Allah lolos. :) Kita disuruh datang ke kantornya untuk dijelaskan tentang segala macam peraturan perusahaan termasuk tatacara berpakaian. 

 

Pastinya seneng banget ya bisa gabung di big four KAP kayak E&Y gini. Tunggu dulu, sebelum diterima jadi pegawai tetap, waktu pertamakali masuk yang namanya anak baru statusnya masih anak magang selama enam bulan. Semua hak dan kewajiban sama seperti pegawai tetap. Bedanya, dilarang cuti selama enam bulan magang itu, plus kalau sakit belum ada tunjangan kesehatan, jadi nggak bisa klaim biaya berobat deh.

Tertarik masuk Ernst & Young Surabaya? Kirim lamaran aja kesini :

Plaza BRI Lantai 9

Jalan Basuki Rachmad 122. 

 

Good luck :)

Nice Bedroom For Teen

Teen-room-3
I found this good site which containing so many references about room interior. One of them that I like is showing in this picture. Simple fresh bedroom for small room. Is it good? Yes. Actually I really want to make over my own bedroom to be a coulourful and neat one. For further article and picture just click this link >> http://www.rudydewanto.com/2010/04/enam-6-inspirasi-kamar-remaja.html

Saat Dua Puluh Dua Tiba

Assalamualaikum,
Selamat Pagi Anindita.

Surat ini ditulis pada saat usiamu menginjak angka 22.
Ya, dua angka kembar berjejer yang menjadi pengingat
sudah berapa lama kamu menjalani hidup di semesta ini.
Bagaimana rasanya sudah bertumbuh hingga saat ini?
Pasti berbeda dengan saat-saat berusia 13 tahun atau 17 tahun.
Yang jelas sudah sepantasnya kamu tidak berhenti bersyukur
untuk semua nikmat yang tertuju padamu.
Kamu memiliki kedua orangtua yang utuh, menyayangimu, dan
memperhatikanmu. Meski terkadang galak, namun sebenarnya
mereka berdua diam-diam mengkhawatirkanmu.
Kamu memiliki seorang adik perempuan, yang biarpun kadang
membuatmu jengkel atau marah namun dia juga menyayangimu.
Kamu memiliki seseorang yang sangat peduli padamu, dia yang
namanya saja sering susah kamu sebut karena lidahmu yang
mendadak kaku. Kalian yang semestinya saling menjaga, saling
mengingatkan, saling memahami dan menguatkan satu sama lain.
Kamu yang memiliki teman-teman terbaikmu, teman semasa sekolah,
teman di bangku kuliah, juga teman-teman di tempatmu pernah bekerja.
Hari ini diawali pukul 00.00 lebih sedikit ketika seisi rumah membangunkanmu
sambil membawa blackforest dan lilin menyala. Kamu terbangun dan
meniup lilin itu sembari mengucap doa.
Pagi harinya, kamu mendapat lagi kejutan sebuah kue dan lilin kecil
tertancap di atasnya. Dari seseorang yang menunggu di ruang tamu.
Salah, sepertinya dia yang terkejut saat kamu tiba-tiba
datang. Kejutan kecil yang lucu, bukan? :)
Sore harinya kamu pergi ke rumah sakit Darmo, menjenguk salah satu
saudara yang sedang berjuang melawan kanker getah bening.
Lagi-lagi kamu harus banyak bersyukur, dan diingatkan untuk menjaga
kesehatan. Apalagi hari ini sinusitismu masih kambuh, badanmu
terasa lemas dan panas dingin. Namun kamu bertekad tidak ingin merasakan
sakitnya. Kamu ingin menikmati setiap detik yang diberikan padamu.
Malamnya, kamu pergi ke Tunjungan Plaza, dimana teman-teman kuliahmu
ternyata sudah berkumpul. Sebuah roti bulat dan lilin angka nol yang mereka
bilang melambangkan bentuk tubuhmu sudah menunggu untuk ditiup.
Sebuah seremoni kecil, namun bermakna dan berarti besar bagimu.
Doamu, agar semua orang yang menyayangimu mendapat segala yang
terbaik dalam hidup mereka.
Ucapan yang berdatangan dari SMS, twitter maupun facebook membuatmu
bersyukur. Semoga doa-doa yang baik itu dijabah dan dikembalikan pada
pengirimnya.

Saat ini kamu sedang menempuh semester sembilan, di Fakultas Ekonomi
Jurusan Manajemen. Ada empat matakuliah yang sedang diambil serta
kewajiban berupa skripsi yang menunggu diselesaikan. Kamu kuliah hanya
hari Selasa dan Jumat saja, selebihnya seharusnya bisa kamu gunakan waktu
yang ada dengan hal-hal yang bermanfaat. Banyak rencana-rencana hidupmu
yang belum terealisasikan, karena masih sekedar di angan dan belum dicoba.
Kuharap kamu mau lebih berani lagi untuk mengambil risiko. Karena tanpa
mencoba kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya. Setahun belakangan ini
memang banyak sekali hal-hal yang terjadi padamu. Senang, sedih, airmata,
dan doa semua bercampur menjadi satu. Nikmati saja semua yang kamu alami.
Karena dari situlah kamu akan belajar menjadi benar, jadi lebih baik.
Orang-orang datang dan pergi silih berganti dalam hidupmu, tidak perlu
sedih atau menyesal. Kamu tidak bisa meminta semua orang untuk tetap
tinggal. Bagaimana dengan masalah-masalah yang sedang kamu hadapi?
Selesaikanlah, benahilah segala yang bisa dibenahi semampumu.
Ingat, untuk tidak berlari atau sembunyi, karena itu bukan jalan keluar.
Lagipula, kalau bisa melewatinya berarti kamu sudah naik kelas, ke level
yang lebih tinggi.

Pesanku untuk kamu yang saat ini berusia duapuluh dua tahun,
jadilah pribadi yang lebih penyabar, pemaaf dan penyayang. Buang
segala penyakit hati seperti iri dan dengki. Jangan mendendam, karena
itu akan menyakitimu sendiri. Biarkan saja orang-orang yang menurutmu
kurang baik. Jagalah orang-orang yang menyayangimu.
Jadilah orang yang tidak pernah berhenti belajar, jangan capek, apalagi
menyerah pada keadaan. Bermimpilah, dan raih mimpimu satu-persatu.
Percaya pada kemampuan dirimu, bahwa kamu lebih dari sekedar mampu.
Tingkatkan ibadahmu, shalatmu, puasamu, mengajimu, sedekahmu.
Seimbangkanlah dunia dan akhiratmu. Berperanglah melawan segala
macam godaan dan hawa nafsu. Jadilah pemenang di medan pertempuran ini.
Tetap rendah hati, santun dan memperbaiki sifat burukmu.
Surat ini aku tuliskan untuk mengingatkanmu, kelak suatu hari saat kamu
membacanya lagi, semoga apa yang tertulis disini bermanfaat untukmu.
Baiklah, Selamat Ulangtahun Anindita. :)

 

Wassalamualaikum,

Diriku Di Usia 22 Tahun

Ramadhan Journal : Day 2

(download)
Masuk hari kedua puasa Ramadhan. Diwarnai sedikit insiden pas sahur. Dududu... Sempet emoji alias emosi jiwa gitu lah... Memang kok, cobaan puasa terberat bukan makan atau minum tapi nahan nafsu, nahan marah, belajar sabar. -.-

Menu sahur pakai sisa masakan pas buka puasa ditambah telor dadar.

Menu buka puasa atas inisiatif saya, masak perkedel tahu, sop bakso pakai sawi banyak, yup saya suka banget sama sawi. Plus ikan lele digoreng. Yummy! Takjilnya pakai es cincau atau biasa nyebut dg istilah es cao. Semuanya handmade lho... Hahaha. Yaiyalah handmade, masa pake kuping.

Alhamdulillah hari ini masih lancar ikut taraweh. Tema ceramahnya cukup menohok hati juga sih. Tentang perasaan cinta yang terlalu mendalam yang bisa mendatangkan bencana. Baik cinta terhadap lawan jenis yang menimbulkan cinta buta sampai perselingkuhan, cinta pada anak-anak sampai menimbulkan nepotisme, juga cinta terhadap harta yang menjurus pada gaya hidup hedonisme. Saya berharap semoga tidak menjadi golongan orang2 yang dimurkai oleh Allah SWT. Naudzubillahimindzalik.

Oiya, yang spesial hari ini adalah hari ulangtahun mama saya yang ke - 50 tahun. Wuoo setengah abad. Saya jadi ikut-ikutan ngerasa udah tua aja lho. Saya sama adek sudah menyiapkan suprise kecil berupa kue yang ditata seadanya. Hehe. Juga sebuah hadiah, benda kesukaan mama saya. Happy birthday Mommy. All my pray always with you.

Yuk semangat buat ibadah puasa besok-besok, ditambahkan tadarus dan sholat sunnah juga (:

Ramadhan Journal : Day 1

Subhanallah Alhamdulillah, bener-bener bersyukur atas umur yang diberikan sehingga bisa menjalani ibadah puasa Ramadhan tahun ini. Buat saya benar-benar suatu karunia, karena atmosfer yang dibawa Ramadhan selalu berbeda. Selalu bikin saya pengen lebih rajin ibadah, bikin hati lebih tentram, menurut saya bukan sugesti pribadi tapi memang kenyataannya.

Sudah setengah tahunan ini saya vakum nulis blog. Ada rasa rindu sekaligus sedih. Jadi saya memutuskan untuk mengisi lagi blog saya, semoga istiqomah yaaa.. Nggak hanya ibadah lho yang butuh ketetapan hati. Haha. Nah. saya pengen ngisi blog ini dengan kegiatan saya selama Ramadhan satu bulan kedepan. Bismillah.

Isinya akan berkisar ttg postingan menu sahur, buka puasa, isi ceramah taraweh dan aktivitas lainnya. :D Enjoy !

(download)
menu sahur saya dini hari tadi adalah soto yang dibeli dengan sedikit pengorbanan. karena beli kemalaman jadi harus muter-muter dulu keliling kota surabaya. berhubungan keasyikan makan, saya sampai lupa ambil gambar sotonya. haha. ini saya ambil dari blog lain. minjem yaa.. :)

menu buka puasa saya, takjilnya es blewah sesuai request orang-orang rumah. kemudian untuk main coursenya, haha, maklumin gambar yg kurang memadai. tampilannya memang agak acak adul, ikan mujaer goreng, fillet pindang dan sop.. tapi rasanya jangan diragukan. :D itu semua yang membuat saya dan adik saya.

malam ini waktu taraweh saya bertemu dengan teman les semasa SMP, jadilah sedikit nostalgia. tapi saya berusaha multitasking mendengarkan isi ceramah yang intinya adalah akselerasi iman harus dilakukan dlm bulan Ramadhan ini. Jangan hanya akselerasi berbelanja saja, karena bulan puasa ini memang boros-borosnya orang. Penjualan pakaian, kendaraan dan bahan makanan mengalami peningkatan.

sebenarnya saya juga heran dan menyayangkan kondisi semacam itu. kenapa di bulan yang katanya penuh berkah, rahmat dan ampunan malah jadi makin konsumtif. kalau saya pribadi, hanya satu yang saya inginkan, beribadah dengan lebih khusyuk. :) saya bener-bener berharap bisa terlahir jadi pribadi yg lebih baik secara hablum minallah dan hablum minannas. amin.

 

mungkin itu saja

kamu hanya tahu aku tertawa

kamu hanya tahu aku mencinta

kamu hanya tahu aku mengeluh

kamu hanya tahu aku kemudian baik-baik saja

tapi kamu tidak pernah tahu...

ada luka yang sepertinya tidak sembuh

berusaha diabaikan

malah jadinya semakin berantakan

semakin menyulitkan

entah apa besok masih bisa berdiri seperti sekarang

atau hanya tersudut di antara serakan sisa-sisa kalian

mungkin itu saja, yang pantas aku dapat (dee)

Yang Kucinta, Tanpa Nama

Aku tidak tahu rasanya, dan tidak tahu asal mula istilah itu muncul. Selingkuh? Apa enaknya. Darimana sebenarnya penyakit yang kemudian mewabah itu. Sampai-sampai aku terkadang ingin membagi sedikit kadar setiaku pada orang-orang ini. Biar mereka semua mau sembuh. Bukankah punya pasangan satu saja sudah kewalahan luarbiasa. Sudah banyak waktu, tenaga dan biaya yang harus dikorbankan. Kenapa sih sampai ada yang bersedia menambah stok pasangannya jadi dua bahkan tiga atau lebih.
Aku bergidik setiapkali membuka folder di handphone-ku bapakku. Pria satu ini sungguh keterlaluan brengseknya. Berani-beraninya dia menyimpan foto wanita selain ibuku disini. Tidak hanya sebiji dua biji. Bahkan banyak sekali. Posenya juga menjijikkan, senyum-senyum kemayu, meringis, heh belum pernah aku tampar ya mukamu dasar wanita tak tahu malu. Mungkin aku masih bisa terima, jika wanita di dalam foto ini lebih muda, cantik, seksi atau kelebihan-kelebihan fisik lainnya yang selalu jadi daya tarik kaum pria. Nyatanya? Wanita ini nilainya masih seperempat nilai ibuku. Ah, bapakku ini selain mata keranjang juga mulai turun standar rupanya.
"Jangan nilai bapak macam-macam. Kamu anak durhaka."
Brak! Pintu kamarku dibanting dan aku sudah biasa. Seluruh tubuhku bergetar. Demi Tuhan aku bersumpah takkan menangisi kelakuan laki-laki yang masih sedarah denganku itu. Selalu tidak mau mengakui kelakuannya, dengan segala dalih tak masuk akal. Ibuku? Akan selalu membelanya dengan penuh hormat seorang istri. Apa begini yang namanya cinta sejati itu, dibodohipun mau.
"Sudah! Berapa kali ibu bilang, kamu tidak boleh menuduh bapakmu sembarangan. Dasar kamu anak tak tahu diri."
Aku dibentak, dipelototi dan dijambak. Duh, besok-besok aku potong rambut saja. Biar tidak jadi sasaran begini.
Foto-foto, SMS mesra, telepon misterius yang penuh canda tawa kecentilan. Apa aku harus diam saja menghadapi perselingkuhan terang-terangan begini?
Aku menangis diam-diam dalam tidurku. Aib ini tidak ingin sekalipun aku tumpahkan pada siapa-siapa. Memalukan bukan. Dianggap durhaka dan bisa-bisa dikasihani orang kalau sampai mereka tahu. Aku hanya berharap, semoga aku mendapat pasangan yang setia. Yang baik hati, tidak seperti bapakku itu.

Kelas baru saja dimulai, tapi Kamila di sebelahku sudah menunjukkan tanda-tanda bosan.
"Cabut yuk!" Aku menoleh dan menggeleng kuat-kuat. Meskipun aku sendiri tidak punya niatan mendengar dosenku bicara, tapi aku juga tidak ingin kelayapan di Mall atau tempat nongkrong.
"Ah nggak asyik nih," keluh Kamila, tangannya sibuk mengetik-ngetikkan entah apa di BBnya.
"Haha. Udah, sekali-sekali diem di kelas kenapa. Masa tiap kali kuliah titip absen terus."
"Eh, aku abis jadian sama berondong nih."
Wah, topik menarik buat dibahas. Lumayan, nggak jadi ngantuk di kelas.
"Serius? Kamu udah putus sama Kak Alfa?"
Kamila menggeleng sambil tersenyum nakal.
"Belum. Masih jadian sama kak Alfa kok."
"Lha terus?" Mulutku menganga. "Gila nih anak!"
"Ssstt, nggak usah heboh gitu deh. Nggak masalah kan jalan sama dua orang sekaligus Asal nggak ketauan. He he."
"Mau sampai kapan?"
"Nggak tahu deh. Selama masih enjoy ya nggak papa kan."
"Apa susahnya sih memilih?" Protesku. Satu lagi makhluk mencoba main hati. Masih tetap nggak habis pikir dengan perilaku semacam ini.
"Susah. Soalnya aku ngerasa nggak mungkin pilih salah satu."
"Jangan pilih dua-duanya kalau gitu, biar adil."
"Nggak mau dong, masa malah ngelepasin dua-duanya."
Kamila memamerkan fotonya dengan si berondong. Lumayan ganteng sih, dan nggak kelihatan kalau umurnya selisih beberapa tahun dengan kami berdua. Aku tertawa miris sambil mencubit Kamila. Si cantik ini mengaduh kesakitan.
"Pokoknya, kalau sampai terjadi apa-apa, aku nggak ikutan ya," ujarku memperingatkan.
Kamila melotot.
"Enak aja, terus ntar aku curhat sama sapa dong? Yang aku jadiin pelampiasan siapa dong?"
"Lho ya nggak tahu. Pokoknya nggak ikutan deh."

Peluh bercucuran membasahi leher dan wajahku, tapi aku masih bersemangat melanjutkan kegiatan treadmill. Mataku tidak lepas dari layar monitor di depanku yang menampilkan indikator kecepatan, waktu serta kalori yang sudah dibakar. Percuma saja mau jelalatan kemana-mana, tidak ada pemandangan menarik. Paling-paling tante kaya atau om-om. Mana sih anak mudanya, masa cuma aku saja. Done! Setelah 45 menitan treadmill aku menyerah. Kutekan tombol stop, lalu menuju alat spinning bike. Yeaah, inilah bersepeda secara indoor. Bebas polusi. He he. Saat hendak naik spinning bike, tak sengaja mataku tertumbuk ke arah seseorang yang sibuk berkutat dengan dumbell. Deg! Dia menoleh dan tersenyum sekilas, kemudian asyik dengan dumbellnya lagi. Deg deg deg. Dadaku bergemuruh, entah loncatan apa yang sedang terjadi dalam hatiku. Namun baru kali ini aku merasakan hal yang absurd. Jatuh cinta. Pada pandangan pertama, eh? Handphone-ku berbunyi, tepat saat si ganteng yang belum kutahu namanya ini berjalan ke arahku. Kulihat Caller IDnya. Oh rupanya pacarku. Si ganteng semakin mendekat, aku harus segera berbuat sesuatu. Tekan tombol reject, lanjut matikan handphone. Tepat saat dia berdiri di hadapanku.
"Hei." Sapanya.
"Halo." Aku tersenyum menahan dadaku yang hampir meledak kegirangan.
Baiklah, jangan salahkan aku jika kemudian aku mewarisi sifat bapakku. (dee)